My Prince in Dreamland
“Uuh…!”
keluh Shilla seraya membanting tasnya yang lengket karena ditempeli permen
karet tadi pagi.
“Gara – gara Kak Shilla lagi, Kak?” Tanya Shanin, adik Shilla, yang juga masih mengenakan seragam putih birunya.
“Gara – gara Kak Shilla lagi, Kak?” Tanya Shanin, adik Shilla, yang juga masih mengenakan seragam putih birunya.
“Sabar ajah,
deh, Kak! Satu setengah tahun lagi lulus…”
“Satu setengah tahun itu masih lama, tau!” seru Shilla yang masih cemberut, seraya meraih laptopnya.
“Pasti mau chatting sama ‘Sang Pangeran’ itu lagi!” tebak Shanin.Shilla hanya tersenyum. “Siapa, sih, Kak, Prince Eric itu sebenarnya? Kakak masih belum ketemu sama orangnya?” Tanya Shanin lagi.
Shilla tersenyum melirik Shanin. “Iya, sampe sekarang kakak emang belum ketemu orangnya. Tapi yang jelas, dia asyik!”
“Satu setengah tahun itu masih lama, tau!” seru Shilla yang masih cemberut, seraya meraih laptopnya.
“Pasti mau chatting sama ‘Sang Pangeran’ itu lagi!” tebak Shanin.Shilla hanya tersenyum. “Siapa, sih, Kak, Prince Eric itu sebenarnya? Kakak masih belum ketemu sama orangnya?” Tanya Shanin lagi.
Shilla tersenyum melirik Shanin. “Iya, sampe sekarang kakak emang belum ketemu orangnya. Tapi yang jelas, dia asyik!”
Sekarang ia
memang punya agenda baru setiap pulang sekolah. Yaitu chatting dengan teman barunya,
Prince Eric. Menurut Shilla, orang yang menamai akun Facebooknya dengan nama
Prince Eric itu memang orang yang asyik diajak mengobrol. Tak jarang Karin juga
curhat kepadanya. Sejak mengenal Prince Eric, bebannya sepulang sekolah serasa
berkurang. Ia jadi lumayan bisa melupakan kekesalannya kepada Cakka, teman
sekolahnya yang super jahil itu.
Shilla
mengenal Prince Eric dari sebuah grup di Facebook yang bernama It’s Dreamland.
Grup orang – orang yang menyukai cerita fiksi. Di sana hampir semua member
menamai akun Facebooknya dengan nama tokoh favoritnya. Termasuk ia yang menamai
akunnya Princess Sugarplum, putri di cerita Nutcracker. Tanpa disangka, ia juga
berkenalan dengan seseorang yang menamai akunnya Prince Eric, pangeran di
cerita Nutcracker.
“Yippie!”
seru Shilla tiba – tiba, yang membuat Shanin menjatuhkan novel yang dibacanya.
“Ada apa, sih, Kak?! Bikin orang jantungan ajah!” sungut Shanin.
“Ada kabar bagus, Shan! Dia ngajakin ketemuan!”
“Siapa? Oh… ‘Sang Pangeran’, ya?”
Shilla hanya tersenyum.
“Ada apa, sih, Kak?! Bikin orang jantungan ajah!” sungut Shanin.
“Ada kabar bagus, Shan! Dia ngajakin ketemuan!”
“Siapa? Oh… ‘Sang Pangeran’, ya?”
Shilla hanya tersenyum.
“Katanya,
dia ngajakin ketemuan di taman kota, besok jam 5 sore. Dia akan bawa kado
special…”
“Ciie…jangan – jangan dia bakal langsung nembak kakak besok! Di taman, waktu pesta kembang api malam – malam…So Sweet!”
“Iih…apaan, sih?!”
“Ciie…jangan – jangan dia bakal langsung nembak kakak besok! Di taman, waktu pesta kembang api malam – malam…So Sweet!”
“Iih…apaan, sih?!”
Sampai
malam, Shilla terus memikirkan hal itu. ia benar – benar penasaran, siapakah Prince
Eric yang selama ini dikenalnya itu? Bahkan, sampai esoknya di sekolah ia masih
memikirkan hal tersebut. Shilla jadi tak terlalu konsen ke pelajaran. Tapi
anehnya, Radith, yang biasanya tak pernah absen untuk mengisenginya, kini sama
sekali tak bertingkah.
Waktu yang
dinantikan pun akhirnya tiba. Tepat pukul 04.30 sore, Karin langsung berangkat
dari rumahnya.
“Ciie…yang mau ketemu sama si doi!” goda Shanin. Shilla hanya melirik adiknya, seraya tersenyum, tanda mengiyakan.
“Ciie…yang mau ketemu sama si doi!” goda Shanin. Shilla hanya melirik adiknya, seraya tersenyum, tanda mengiyakan.
Dua puluh
menit kemudian, Shilla telah sampai di taman. Setelah selesai memarkirkan
motor, tiba – tiba seseorang menabraknya. Shilla terkejut. Ia tambah terkejut
lagi ketika tahu siapa orang yang telah menabraknya itu.
“Shilla?!”
“Cakka?!”
“Ngapain lu ada di sini?”
“Harusnya gue yang nanya! Kenapa, sih, lu harus selalu ada di mana – mana dalam hidup gue?! Nggak puas apa lu, tiap hari ngerjain gua di sekolah?!” seru Shilla sewot dan langsung berlari meninggalkan Cakka. Cakka tertegun mendengar bentakan Shilla. Tapi, ia tak berkata apa – apa.
Shilla segera menuju sebuah bangku yang berada di dekat air mancur di tengah taman. Tapi, tak ada seorangpun di sana, selain anak – anak yang sedang bermain gelembung sabun.
“Katanya, dia akan datang dengan pakaian serba biru, pukul 5 tepat… Tapi, sekarang, kan, masih jam 5 kurang 5 menit. Aku tunggu saja lagi…” ujar Shilla dalam hati. Lima menit kemudian, seseorang dengan pakaian serba biru datang dan menghampirinya. Tapi Karin malah jadi cemberut. Ia yakin betul itu bukan yg ditunggunya. Yups! Sebab orang itu adalah….Cakka!
“Ngapain, lu ngikutin gua ke sini, juga?!” seru Shilla sewot.
“Siapa yang ngikutin lu, gua janjian sama seseorang di sini! Elu kali, yang mata – matain gua!”
“Diih…gua juga lagi janjian sama seseorang di sini! Gua mau ketemu sama pangeran gua, Prince Eric, namanya!”
“Haa?! Jadi…elu yang pake akun FB Princess Sugarplum itu?”
“Ha?! Lu tau dari mana? Apa jangan – jangan lu…”
“Jadi, selama ini?!” seru keduanya kompak.
“Huh! Jadi Princess gua itu elu?!”
“Idih…siapa juga yg mau jadi Princess lu! Jangan harap!” seru Shilla seraya langsung meninggalkan Cakka.
Sejak itu
pun Shilla tak pernah lagi chatting dengan Cakka yang selama ini dikenalnya
dengan Prince Eric itu. Cakka pun tak pernah mengisenginya lagi di sekolah.
Namun lama – kelamaan, ada rasa tidak nyaman juga yang timbul di hati Shilla.
Ia merasa kehilangan sekaligus dua sosok yang selama ini membuat hidupnya lebih
berwarna. Sosok yang selalu menjadi tempat curhatannya, dan penghibur saat dia
sedih, serta sosok yang selalu harinya di sekolah menjadi lebih seru, meski
sering kali membuatnya jengkel pula.
“Prince Eric hanyalah pangeran dalam dongeng. Kisah bahagia Prince Eric dan Princess Sugarplum hanyalah dalam dongeng pula. Dan dongeng itu tidak nyata! Dongeng hanyalah fiksi!” Itulah yang selalu diucapkan Shilla saat ia merindukan keadaan yang dulu lagi…
“Prince Eric hanyalah pangeran dalam dongeng. Kisah bahagia Prince Eric dan Princess Sugarplum hanyalah dalam dongeng pula. Dan dongeng itu tidak nyata! Dongeng hanyalah fiksi!” Itulah yang selalu diucapkan Shilla saat ia merindukan keadaan yang dulu lagi…
Sudah lebih
dari dua minggu Cakka tidak mengisengi Shilla lagi di sekolah. Mereka pun tak
pernah saling menyapa. Sampai suatu hari, saat jam istirahat, Karin menemukan
sebuah kotak hadiah kecil di kolong mejanya.
“Apa ini kado iseng dari Cakka lagi?” piker Shilla dalam hati. Dengan hati – hati, Shilla pun membuka kado tersebut. Dan ternyata……
“Apa ini kado iseng dari Cakka lagi?” piker Shilla dalam hati. Dengan hati – hati, Shilla pun membuka kado tersebut. Dan ternyata……
Shilla
terbelalak melihat isinya. Ternyata bukan katak atau mainan ular seperti
biasanya. Shilla menemukan sebuah kartu bergambar hati yang dihiasi glitter di
dalamnya. Indah sekali! Ia juga menemukan selembar kertas bergambar kolam ikan
di sebuah taman. Di pojok bawah kertas tersebut, terdapat tanda tangan
pengirimnya…Radith!
Shilla
langsung mengerti maksud hadiah itu. Ia pun segera menuju halaman belakang
sekolah. Di sana ada sebuah kolam ikan yang cantik, dan Shilla pun menuju ke
sana. Seperti dugaannya, Radith telah menantinya di sana.
“Shilla…,” ucap Cakka, “Elu suka hadiah dari gua?” Tanya CAkka agak gugup.
Shilla hanya tersenyum, dan wajahnya memerah.
“Shilla…Sorry kalo selama ini gua sering ngisengin lu. Tapi, sekarang gua baru sadar, kalo ternyata…gua…gua suka sama lu. Lu mau nggak, jadi pacar gua?” Tanya Cakka penuh harap.
“Cakka, sebenernya…gua juga baru sadar, kalo ternyata…gua …suka sama lu juga…,” ucap Shilla malu – malu.
“Jadi, lu mau jadi pacar gua, kan?” kejar Cakka, tak sabar.
Shilla
mengangguk. Dan entah kapan datangnya, tiba – tiba seluruh teman – teman mereka
bertepuk tangan dan bersorak meriah.
Akhirnya, sang Putri dan Pangeran pun bersatu. Dan terbukti, kisah Pangeran dan Putri yang Happy Ending bukan hanya ada di dongeng!
Akhirnya, sang Putri dan Pangeran pun bersatu. Dan terbukti, kisah Pangeran dan Putri yang Happy Ending bukan hanya ada di dongeng!
***
Tidak ada komentar:
Posting Komentar